<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Beyond the physics, walk with the time</title>
	<atom:link href="http://backtime.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://backtime.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Mon, 23 Apr 2007 08:51:17 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='backtime.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Beyond the physics, walk with the time</title>
		<link>http://backtime.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://backtime.wordpress.com/osd.xml" title="Beyond the physics, walk with the time" />
	<atom:link rel='hub' href='http://backtime.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Berjalan Bersama Waktu</title>
		<link>http://backtime.wordpress.com/2007/01/31/hello-world/</link>
		<comments>http://backtime.wordpress.com/2007/01/31/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 31 Jan 2007 07:54:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Baktiar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[23 Januari 2007 pukul 00.50 WITA Seperti biasa, malam ini bangun untuk cek apakah kakak kencing sambil mendengarkan rengekan tak nyaman si kecil yang berak ditunggui ibunya. Mungkin waktu itu jam 00.00 Kakak kencing jadi harus diganti celananya sementara bunda mengganti bedong dan popok. Karena udah lewat tengah malam, sekalian daripada bangun lagi sekalian membuatkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=backtime.wordpress.com&amp;blog=735395&amp;post=1&amp;subd=backtime&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family:Arial;">23 Januari 2007 pukul 00.50 WITA<br />
</span><span style="font-family:Arial;">Seperti biasa, malam ini bangun untuk cek apakah kakak kencing sambil mendengarkan rengekan tak nyaman si kecil yang berak ditunggui ibunya. Mungkin waktu itu jam 00.00<br />
</span><span style="font-family:Arial;">Kakak kencing jadi harus diganti celananya sementara bunda mengganti bedong dan popok. Karena udah lewat tengah malam, sekalian daripada bangun lagi sekalian membuatkan susu untuk kakak. Sambil membuat susu, kantuk yang tadinya luar biasa pelahan-lahan mulai sirna.</span><span style="font-family:Arial;">Selesai memberikan susu, aku memutuskan untuk sekalian sholat Isya’. Biasanya ngantuk itu mengalahkan kewajiban, jadi kalau ada ‘kesempatan lebih baik dimanfaatkan’.<br />
</span><span style="font-family:Arial;">Donggggg… pikiran itu tiba-tiba melintaskan banyak pertanyaan. Sederhananya kalimat itu tapi membangunkan banyak makna. Kalimat ini memang kemudian melintaskan banyak hal yang terus dipikirkan saat air wudhu membasahi bagian-bagian tubuh, terus membangkitkan ingatan saat kaki-kaki melangkah menuju kamar, menyiapkan sajadah, memakai sarung, bertakbir dan sholat sampai salam.</span><span style="font-family:Arial;">Malam ini kalimat itu seperti menjadi kunci untuk membuka kotak pandora pengetahuan hakikat. Dari kalimat dan renungan-renungan yang terus berjalan dari aktivitas tadi terus menuju ke kata yang tak benar-benar bisa terjawab dari semenjak dulu mulai memikirkannya “Hakikat Jalan Kehidupan”. Pertanyaan yang terasa membingungkan ketika aku mulai bertanya, dari manakah memulai awal dari jalan sufi itu? </span><span style="font-family:Arial;">Apakah ia berwujud dalam agama, yang harus di cari dengan mendekat kepada para kyai dan ustadz? Membaca dan memaknai kitab suci dan belajar mencari referensi? Bersilang pendapat dengan yang memilih jalan lain? Dan atau memilih bertoleransi dengannya?</span><span style="font-family:Arial;">Apakah ia berwujud dalam hati, yang harus di cari dengan melatih kesabaran? Berlatih keikhlasan baik ketika kita sepenuhnya menerima maupun tak menerima? Mempertahankan hal-hal yang dianggap prinsip? Bertoleransi terhadap perbedaan dengan orang lain? Berempati dengan penderitaan orang lain?</span><span style="font-family:Arial;">Apakah ia berwujud dalam gerak, yang harus dicari dengan senantiasa mengulurkan tangan untuk membantu orang lain? Tidak membiarkan diri berleha-leha begitu saja dan harus mengisinya dengan bekerja?</span><span style="font-family:Arial;">Jika saja bisa kudapatkan makna seperti saat ini saat mendengar bunyi tik.. tik.. tik.. dari jam dinding.</span><span style="font-family:Arial;">Begini lah sang kunci “Hakikat Jalan Kehidupan” memperkenalkan diri kepadaku. Selama itu ia berdiam diri, dan membiarkan setiap insan sibuk dengan pencariannya yang berjalan seperti kebingungan karena mendekat tanpa menyadari, menyentuh tanpa menyadari dan menjauh tanpa menyadari. Begitu dekatnya sang kunci “Hakikat Jalan Kehidupan” pada setiap yang bernama mahluk karena memang ia yang pertama hadir diciptakan sang Tuhan sebelum hal ikhwal proses kehidupan disebutkan.</span><span style="font-family:Arial;">Beginilah sang “Hakikat Jalan Kehidupan” memperkenalkan diri kepadaku. Tentulah sudah ribuan kali ia mencoba memperkenalkan diri dan berusaha mengingatkan setiap apa yang disebut mahluk, baik yang mengerti maupun yang tak pernah mengerti.</span><span style="font-family:Arial;">Karena itu jugalah mulai hari ini aku akan berusaha menuliskan hal ini kepadamu baik kamu bersedia mendengarkan atau tidak karena aku percaya Ia pasti juga sering memperkenalkan diri kepadamu.</span><span style="font-family:Arial;">Tak penting apakah orang menyebut orang yang berusaha memperkenalkan sang “Hakikat Jalan Kehidupan” itu gila atau tidak, tua renta atau muda karena sang “Hakikat Jalan Kehidupan” sungguh-sungguh ada dan kamu tahu itu. Tapi apakah kamu menyadarinya, itu hal lain yang setiap yang bernama mahluk boleh memilihnya.</span><span style="font-family:Arial;"> </span><span style="font-family:Arial;"><span style="font-family:Arial;">Sekarang bolehkah aku memperkenalkan kepadamu?</span><span style="font-family:Arial;"> </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;">Ketahuilah</span><span style="font-family:Arial;">, </span><span style="font-family:Arial;">Ia</span><span style="font-family:Arial;"> sendiri barulah memperkenalkan kepadaku sebagai kunci bagi kotak pandora. Apakah itu artinya aku baru mulai melangkah ke </span><br />
<span style="font-family:Arial;">sana</span><span style="font-family:Arial;"> untuk mulai mencari. Bukan.. bukan.. , aku kamu semua telah berjalan bersamanya, jadi memang Ia telah memberi hakikat itu di setiap langkahmu langkahku.</span><span style="font-family:Arial;">Lalu apakah pentingnya aku memperkenalkan kepadamu tentang penting memperkenalkannya kepadamu. Ya, aku juga awalnya berpikir demikian karena setiap kalian telah tahu jadi untuk apa memperkenalkan dirinya. Tapi ketahuilah apa yang melandasi aku melakukan ini, karena aku ingin kamu menyadarinya.</span><span style="font-family:Arial;">Untuk apa? Jika kamu mau bertanya begitu itulah saatnya aku mengajakmu memungut pertanyaan itu di setiap hal yang pernah terjadi dihidupmu. Setiap pertanyaan adalah awal dari pengetahuan bukan, maka jika kamu percaya proses ini maka sang “Hakikat Jalan Kehidupan” yang telah mengawalmu selama ini.</span><span style="font-family:Arial;">Marilah kuajak kamu meniti kesadaran tentang sang “Hakikat Jalan Kehidupan” ini dengan jalanku, hanya karena aku masih mahluk terbatas sekarang ini, nanti silahkan kamu lanjutkan kesadaran ini dengan jalanmu. </span><br />
<span style="font-family:Arial;">Karena</span><span style="font-family:Arial;"> </span><span style="font-family:Arial;">Ia</span><span style="font-family:Arial;"> telah jelas sang Hakikat telah memberinya tanggung jawab untuk mengawal segala sesuatu yang bernama mahluk, maka jelas setiap jalan telah ada untuk setiap mahluk, dan jalanmu adalah yang harus kamu jalani karena Ia yang akan mengawalmu.</span><span style="font-family:Arial;"> <span style="font-family:Arial;">Pertama, pisahkan sang Hakikat dengan sang “Hakikat Jalan Kehidupan”, karena sang Hakikat itu mutlak, dan yang lain itu nisbi. </span></span><br />
<span style="font-family:Arial;">Jadi</span><span style="font-family:Arial;"> </span><span style="font-family:Arial;">Ia</span><span style="font-family:Arial;"> juga nisbi bagi sang Mutlak.</span><span style="font-family:Arial;">Ini penting, karena walau kita tahu kita tak pernah menyadarinya bahkan sulit untuk menjabarkan dalam pikiran kita bagaimana Ia nisbi bagi sang Mutlak. Bahkan orang yang mempercayai terpisahnya hal itu sering tak mampu menjabarkan mengapa begitu. Tapi sekarang bukan hal itu yang penting.</span><span style="font-family:Arial;">Jadi aku kamu berjalan dengan sang “Hakikat Jalan Kehidupan” untuk menuju sang Hakikat.<br />
</span><span style="font-family:Arial;">Bagi kamu yang mencari landasan mengapa harus berjalan dengan sang “Hakikat Jalan Kehidupan” bukan langsung dengan sang Hakikat, inilah yang dapat kamu gunakan: Apabila kamu mencari pengetahuan tentang hakikatNya, niscaya tak ada yang kamu dapatkan selain kesesatan, karena yang nisbi tak akan mampu mencapai yang mutlak, karenanya carilah hakikat dari hakikat ciptaanNya. Cukupkah ini menjadi landasan bagiku bagimu untuk berkenalan lebih lanjut dengan sang “Hakikat Jalan Kehidupan”?</span><span style="font-family:Arial;">Kuharap ini juga dapat menjadi rambu bagimu yang sering terperosok oleh semangatmu mencari kebenaran, lalu melakukan reka daya untuk membentuk siluet sang Kebenaran. Demikian pula kadang yang terjadi dengan yang berusaha mencari hakikat, lalu berusaha membentuk siluet sang Hakikat.</span><span style="font-family:Arial;">Ketahuilah, sang Mutlak, sang Hakikat dan sang Kebenaran tak dapat kamu personifikasikan. Jika kamu melakukan ini, percayalah sang “Hakikat Jalan Kehidupan” memberitahuku bahwa kamu hanya akan menjadi pesakitan karena jiwamu tak tenang karena segala personifikasi itu justru meresahkan jiwamu. Mengapa? Karena aku juga akan balik bertanya, dapatkah kebenaran semu meneduhkan jiwamu? Dapatkah hakikat semu tentangNya dapat memuaskan dahagamu untuk melihat hakikatNya?</span><span style="font-family:Arial;">Perjelaskan pandanganmu dengan jawabanku: tidak!!! Tidak ada satu mahlukpun yang mampu menembus Hakikatnya. Bukan karena Dia menabirkan diriNya, tapi karena kamu mahluk. Jika kamu menolak hal ini, sebaiknya lepaskan segala yang aku tulis setelah ini karena kamu hanya akan menangkap ini dengan kosong.</span><span style="font-family:Arial;"> <span style="font-family:Arial;"></span></span><br />
<span style="font-family:Arial;">Kedua</span><span style="font-family:Arial;">, </span><span style="font-family:Arial;">Ia</span><span style="font-family:Arial;"> sang “Hakikat Jalan Kehidupan” tak langsung kamu temukan dalam sekejap. Janganlah sekali-kali kamu langsung akan mendapatkan pecerahan dari seluruh hidupmu sekaligus memahami sang “Hakikat Jalan Kehidupan” dalam sekali kesadaranmu. Tidak! Karena itu juga bagian hakikat sang “Hakikat Jalan Kehidupan”.<br />
</span><span style="font-family:Arial;">Kesadaranmu tentang sang “Hakikat Jalan Kehidupan” itu awal untuk mempertanyakan kehadiran dirimu, dengan demikian kamu akan mulai memungut kepingan demi kepingan perjalanan dari hidupmu. Setiap kepingan seharusnya mendapatkan porsi pertanyaan yang sama, mengapa. Mengapa aku mengajakmu menimbang dengan porsi yang sama, karena ini jalan keadilan bagi dirimu. Keadilan di dalam kehidupan mungkin nisbi bagimu karena semakin kau merasakan mungkin tak pernah kau dapatkan keadilan itu sehingga kau bergumam tidak ada keadilan di dunia ini. Tapi setidaknya sebelum kamu memperoleh hakikat keadilan di kehidupan ini, marilah mulai dari pikiranmu dengan menimbang secara adil setiap hal yang telah terjadi dalam hidupmu.<br />
</span><span style="font-family:Arial;">Aku ingin mengingatkanmu bahwa sang “Hakikat Jalan Kehidupan” sering menjadi alasan untuk menimbang kejadian demi kejadian dari hidup menjadi tidak seimbang. Kamu ingin melihat sederhananya, lihat bagaimana banyak orang tidak memberikan timbangan yang adil tentang salah dan benar. Hal-hal yang benar tak pernah ditimbang adil dengan hal-hal yang salah. Termasuk juga bagaimana orang sering melihat masa lalu seolah-olah ada hal-hal yang bodoh dan tak memiliki alasan untuk ditanyakan dan ada hal-hal yang dikerjakan yang berguna dan dapat ditanyakan.</span><span style="font-family:Arial;">Itulah yang sering menyedihkanku. Jika kamu pernah melakukan hal yang besar, ada porsi untuk ditimbang dibaliknya. Pun, bukankah jika suatu masa kamu pernah duduk sia-sia itu juga harus pula ditimbang.<br />
</span><span style="font-family:Arial;">Jika kamu menyadari sang “Hakikat Jalan Kehidupan”, kamu akan tahu bahwa diammu, kerjamu, melamunmu, keluhan hatimu, kesenanganmu, kesedihanmu, kebimbanganmu adalah bagian yang adil yang membentukmu. Hilangkan kebiasaanmu untuk mengukur salah dan benar, nanti.. nanti ada waktunya kamu cukup waras untuk menilai salah dan benar tapi bukan seperti saat ini dimana kamu belum dapat berbuat adil dalam menimbang hal-hal di masa lalumu.<br />
</span><span style="font-family:Arial;">Apabila kamu ingin melanjutkan bersamaku untuk berjalan dengan sang “Hakikat Jalan Kehidupan”, maka saat ini kamu harus berani untuk melepaskan atribut segala tindakanmu dari kata “BENAR” dan “SALAH”, karena itu akan menyulitkanmu menyadari sang “Hakikat Jalan Kehidupan” apalagi sampai memahaminya. Untuk sementara ini, kembalikan kata itu kepada sang Kebenaran, dan mulailah berjalan bersama sang “Hakikat Jalan Kehidupan”.<br />
</span><span style="font-family:Arial;">Jika engkau bersedia demikian, maka dua hal itu cukup menjadi alasan untuk bersamaku berjalan bersama sang “Hakikat Jalan Kehidupan”.</span><span style="font-family:Arial;"> <br />
<span style="font-size:9pt;font-family:Arial;">Dialah sang Waktu, dimana aku menemukannya dari: Demi Waktu</span></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/backtime.wordpress.com/1/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/backtime.wordpress.com/1/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/backtime.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/backtime.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/backtime.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/backtime.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/backtime.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/backtime.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/backtime.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/backtime.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/backtime.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/backtime.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/backtime.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/backtime.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/backtime.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/backtime.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=backtime.wordpress.com&amp;blog=735395&amp;post=1&amp;subd=backtime&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://backtime.wordpress.com/2007/01/31/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e6aa96993fc830f63075c06ed6c2c475?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">backtime</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
